
Oku Selatan, Analityc.id – Lebaran di tepian Danau Ranau bukan sekadar perayaan hari raya. Di wilayah Warkuk Ranau Selatan, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan, Idulfitri menjelma menjadi tradisi budaya yang sarat makna, menyatukan masyarakat lintas desa dalam satu ikatan kebersamaan yang kuat, Sabtu (21/3/2026).
Empat desa—Pagar Dewa, Tanjung Jati, Kota Batu, dan Sukajaya—memiliki tradisi unik yang terus dijaga secara turun-temurun. Dalam perayaan Idulfitri, warga dari keempat desa ini melaksanakan Salat Id secara bersama-sama di satu masjid yang ditentukan secara bergiliran setiap tahunnya.
Pada Lebaran 2026, Desa Pagar Dewa mendapat kehormatan sebagai tuan rumah. Ribuan jamaah dari desa tetangga berdatangan sejak pagi, memenuhi Masjid Darussolihin hingga ke halaman dan badan jalan. Saf salat memanjang, menghadirkan pemandangan yang menggambarkan kuatnya persatuan tanpa sekat.
Tradisi ini bukan sekadar kesepakatan, melainkan warisan leluhur yang terus dijaga sebagai simbol persaudaraan lintas wilayah.
Semarak kebersamaan bahkan telah terasa sejak malam takbiran. Gema takbir berkumandang dari desa tuan rumah, lalu menyebar ke seluruh penjuru kampung. Warga dari empat desa berbaur dalam takbiran keliling, menyusuri rute yang menghubungkan satu desa ke desa lainnya.
Lampu kendaraan berpendar di malam hari, berpadu dengan cahaya kembang api yang menghiasi langit. Suasana semakin hidup dengan iringan kendaraan yang menambah semarak malam kemenangan.
Takbiran keliling tersebut menjadi simbol kuat bahwa tidak ada batas di antara mereka—semua menyatu dalam satu identitas kebersamaan.
Bagi masyarakat Pagar Dewa, menjadi tuan rumah bukan hanya kebanggaan, tetapi juga tanggung jawab besar. Mereka menyebutnya sebagai “Lebaran besar”.
Persiapan dilakukan jauh hari, mulai dari membersihkan lingkungan hingga menyiapkan berbagai hidangan khas Lebaran. Opor, gulai, rendang, hingga aneka kue tradisional tersaji melimpah untuk menjamu tamu dari desa lain.
Setiap tamu disambut hangat, menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Tidak ada perbedaan antara pendatang dan tuan rumah—semua diperlakukan sebagai bagian dari keluarga besar Ranau.
Tradisi ini juga menjadi momen yang paling dinanti para perantau. Mereka rela menempuh perjalanan jauh demi kembali ke kampung halaman.
“Lebaran terasa berbeda kalau tidak pulang,” menjadi ungkapan yang menggambarkan kuatnya ikatan emosional masyarakat terhadap tradisi ini.
Usai Salat Id, silaturahmi lintas desa menjadi inti dari perayaan. Warga saling berkunjung dari rumah ke rumah, mempererat hubungan yang telah terjalin erat selama bertahun-tahun.
Tak hanya berdampak secara sosial, tradisi ini juga memberikan manfaat ekonomi. Pelaksanaan Salat Id secara terpusat menghasilkan infak yang cukup besar.
Pada tahun ini, dana yang terkumpul dari infak, sedekah, dan darma mencapai Rp259 juta. Dana tersebut akan digunakan untuk pembangunan dan perbaikan masjid di desa tuan rumah, sehingga masjid-masjid di keempat desa terus berkembang dan terawat dengan baik.
Di tengah arus modernisasi yang kerap mengikis nilai kebersamaan, masyarakat Ranau justru menunjukkan hal sebaliknya. Tradisi ini menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu memperkuat nilai keagamaan sekaligus sosial.
Lebaran di Ranau bukan hanya tentang perayaan, tetapi tentang persatuan, gotong royong, dan identitas yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Dari gema takbir yang berkeliling kampung hingga saf salat yang memanjang di satu masjid, semuanya menyatu dalam satu pesan sederhana namun kuat kebersamaan adalah kekuatan utama.(Red)
Tidak ada komentar