
Penulis: Dapid Novian Mastur (Mahasiswa Ibukota)
Bandar Lampung, Analityc.id – Setiap tahun, putra-putri terbaik Lampung berhasil menembus perguruan tinggi terbaik di Indonesia. Mereka diterima di berbagai kampus di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, dan kota-kota lainnya melalui perjuangan akademik yang tidak mudah. Namun, setelah berhasil meraih kesempatan tersebut, banyak di antara mereka harus berjuang sendiri menghadapi biaya pendidikan dan biaya hidup yang tinggi tanpa dukungan yang memadai dari pemerintah daerah.
Pertanyaan yang patut diajukan adalah: apakah pembangunan daerah hanya diukur dari banyaknya jalan, gedung, dan infrastruktur yang dibangun, sementara investasi terhadap kualitas manusia justru belum menjadi perhatian yang setara?
Dalam perspektif pembangunan modern, sumber daya manusia merupakan aset paling berharga. Gedung dapat dibangun dalam hitungan bulan, tetapi mencetak dokter, dosen, hakim, insinyur, peneliti, ekonom, dan pemimpin membutuhkan waktu bertahun-tahun. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pengeluaran anggaran.
Hingga saat ini, belum terlihat adanya program beasiswa daerah yang secara luas memberikan perhatian khusus kepada mahasiswa asal Lampung yang sedang menempuh pendidikan di luar provinsi. Kondisi ini menimbulkan kesan bahwa dukungan pemerintah daerah terhadap pendidikan tinggi belum menjangkau seluruh potensi putra-putri Lampung, terutama mereka yang berhasil diterima di perguruan tinggi unggulan nasional.
Padahal, mahasiswa yang memilih kuliah di luar daerah bukan berarti meninggalkan Lampung. Sebaliknya, banyak dari mereka justru sedang menyiapkan diri agar kelak dapat kembali dengan membawa ilmu, pengalaman, jaringan, dan inovasi untuk membangun daerah. Jika mereka tidak memperoleh dukungan, maka Lampung berisiko kehilangan kesempatan untuk memperkuat kualitas sumber daya manusianya.
Sudah saatnya paradigma pembangunan diubah. Keberhasilan pemerintah daerah tidak hanya diukur dari tingginya serapan anggaran atau banyaknya proyek fisik, tetapi juga dari keberhasilannya membuka akses pendidikan bagi generasi muda. Beasiswa bukanlah bentuk belas kasihan, melainkan investasi strategis yang manfaatnya akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Pemerintah Provinsi Lampung memiliki kesempatan untuk menunjukkan keberpihakan yang lebih kuat melalui penyusunan program beasiswa yang terbuka, transparan, dan kompetitif bagi mahasiswa asal Lampung yang diterima di perguruan tinggi dalam maupun luar provinsi. Program tersebut dapat dipadukan dengan skema ikatan pengabdian sehingga ilmu yang diperoleh kembali memberikan manfaat bagi pembangunan daerah.
Kritik ini tidak dimaksudkan untuk mengabaikan berbagai program pendidikan yang telah berjalan, melainkan sebagai dorongan agar kebijakan pendidikan semakin berpihak pada pengembangan sumber daya manusia secara menyeluruh. Di tengah persaingan global, daerah yang mampu berinvestasi pada manusianya akan memiliki daya saing yang lebih kuat dibanding daerah yang hanya mengandalkan pembangunan fisik.
Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu dijawab bukanlah apakah Lampung mampu membangun gedung yang megah, melainkan apakah Lampung juga mampu membangun generasi yang kelak mengisi gedung-gedung tersebut dengan integritas, kompetensi, dan pengabdian.
Sebab, daerah yang besar bukan hanya karena kekayaan alamnya, tetapi karena keberanian pemerintahnya berinvestasi pada kecerdasan rakyatnya.
Tidak ada komentar