
Analityc.Id Jakarta – Sekretariat Nasional Forum Strategis Pembangunan Sosial (FORES) menggelar Diskusi Series #5 yang bertajuk “Indonesia di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global: Telaah Kesiapan Indonesia Menghadapi Krisis di Era Prabowo – Gibran” melalui zoom meeting, Sabtu (27/06/2026).

Kegiatan tersebut menghadirkan dua orang narasumber diantaranya; Prof. Anak Agung Banyu Perwita, M.A., P.hD (Pakar Geopolitik/Guru Besar Universitas Pertahanan Republik Indonesia) dan Hery Haryanto Azumi (Inisiator Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama).
Direktur Eksekutif FORES, Fathullah Syahrul mengatakan, kegiatan tersebut menjadi agenda penting dalam melihat secara gamblang dinamika yang sedang terjadi di Indonesia pasca perang yang bergejolak di Timur Tengah.
“Ini adalah diskusi yang kami inisiasi untuk melihat dinamika yang terjadi di Indonesia yang seiring sejalan dengan perang Timur Tengah, khususnya dampak ekonomi yang Tengah dihadapi Indonesia”, ujarnya.
Fathullah Syahrul mengungkapkan, di Tengah perang yang sampai hari ini masih berlangsung Indonesia harus tetap kokoh dan mampu berdiri di atas kaki atau kemandirian ekonomi.
“Kami menyadari dengan perang yang sedang berlangsung pasti memiliki dampak besar bagi ekonomi kita, namun Indonesia harus tetap kokoh di tengah situasi itu. Sehingga kami mendorong agar Indonesia tetap bertahan jangan sampai terjadi krisis ekonomi yang begitu besar yang bisa menganggu sendi-sendi kehidupan masyarakat”, kata dia.
Sementara itu, Anak Agung Banyu Perwita mengatakan, sebagai salah satu negara dengan kepulauan terbesar di dunia memiliki konsentrasi yang sangat penting pada aspek keamanan maritim dengan 11.000 pulau dari Sabang – Merauke.
“Geopolitik RAFEL (Rivalitas Politik) karena membincang tentang rival competition para negara-negara besar yang berupaya mengontrol tiga aspek: aspek wilayah teritorial, aspek sumber daya alam dan aspek pengaruh”, ujarnya.
Anak Agung Banyu Perwita melanjutkan bahwa garis pertahanan kepulauan yang dimiliki China dan Amerika khususnya akan melindungi alur laut yang semuanya melewati wilayah Indonesia yang nantinya bisa saja digunakan sebagai jalur ekonomi.
“Bayangkan pada tahun 2030 bagaimana kita bisa mempertahankan eksistensi negara Indonesia sebagai sebuah negara, bukan hanya dari sisi politiknya tetapi juga pada sisi diplomatiknya”, kata dia.
Terpisah, Hery Haryanto Azumi mengatakan, Indonesia bisa menempatkan diri dalam raga geopolitik saat ini. Khususnya organisasi sosial kemasyarakatan juga perlu beradaptasi, Ketika dunia dianggap dunia multipolar, maka perlu kita tahu goal apa yang sedang diciptakan oleh Prabowo Subianto.
“Kita harus mengetahui, misalnya Upaya Presiden Prabowo masuk ke BRICS dan Organisation for Economic Co-opeation and Development (OECD). Dunia saat ini merupakan kreasi baru the after meet of the second world, apapun yang kita lihat hari ini tidak terlepad dari siklus Panjang geopolitik”, ucapnya.
Tidak ada komentar